Friday, November 21, 2008

Well Seismic Tie

Adalah proses pengikatan data sumur (well) terhadap data seismik. Data sumur yang diperlukan untuk well seismic tie adalah sonic (DT), density (RHOB), dan checkshot. Sebelum diproses, data well tersebut harus dikoreksi terlebih dahulu untuk menghilangkan efek washout zone, cashing shoe, dan artifak-artifak lainya.

Sebagaimana yang kita ketahui, data seismic umumnya berada dalam domain waktu (TWT) sedangkan data well berada dalam domain kedalaman (depth). Sehingga, sebelum kita melakukan pengikatan, langkah awal yang harus kita lakukan adalah konversi data well ke domain waktu. Untuk konversi ini, kita memerlukan data sonic log dan checkshot.

Data sonic log dan checkshot memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Kelemahan data sonic diantaranya adalah sangat rentan terhadap perubahan lokal di sekitar lubang bor seperti washout zone, perubahan litologi yang tiba-tiba, serta hanya mampu mengukur formasi batuan sedalam 1-2 feet.

Sedangkan kelemahan data checkshot adalah resolusinya tidak sedetail sonic. Untuk ‘menutupi’ kelemahan satu sama lain ini, maka kita melakukan koreksi dengan memproduksi ‘sonic corrected checkshot’. Besarnya koreksi checkshot terhadap sonic disebut dengan ‘DRIFT’.

Contoh proses matematis koreksi sonic oleh chekshot adalah sbb:
Checkshot data:
Kedalaman 1 = 1000 ft, Waktu 1 = 140 msec
Kedalaman 2 = 1250 ft, Waktu 2 = 170 msec
Checkshot time = 170 - 140 = 30 msec

Jika kecepatan sonic dari 1000 sampai 1250 ft adalah 125 usec/ft, maka waktu tepuhnya (1250 - 1000) x 0.125 = 31.25 msec
DRIFT = 30 - 31.25 = -1.25 msec.

Tahapan berikutnya adalah membuat reflectivity log (dari data sonic dan density), lalu membuat seismogram sintetik dengan cara meng-konvolusi-kan reflectivity log dengan sebuah wavelet.

Berikut contoh nya:

Courtesy Dutch Thompson, Landmark Graphics Corporation, 2003

Pemilihan wavelet merupakan hal yang sangat penting. Karena fasa data seismic akan berubah sejalan dengan bertambahnya kedalaman. Pada SRD (Seismic Reference Datum) mungkin kita akan memiliki wavelet dengan fasa nol (setelah di-zero phase kan dalam prosesing, yang sebelumnya mengikuti signature sumber gelombang sebagai minimum phase), akan tetapi pada kedalam tertentu fasanya dapat berubah.

Dalam membuat sintetik, untuk pertama kali kita dapat menggunakan wavelet sederhana seperti zero phase ricker dengan frekuensi tertentu katakanlah 25Hz. Lalu dengan membandingkan trace sintetik dan trace-trace seismic disekitar bor, kita meng-adjust apakah frekuensi wavelet lerlalu besar atau terlalu kecil. Setelah itu lihatlah fasanya, dan perkirakan fasa wavelet di sekitar zona target.

Lalu anda dapat melakukan shifting dan mungkin (stretching atau squeezing) dari data sumur. Akan tetapi proses shifting janganlah terlalu excessive, katakanlah ~20ms (?), demikian juga dengan proses stretching-squeezing, janganlah melebihi 5-10% (?) dari perubahan sonic atau kecepatan interval.

Jika anda memiliki data well-tops dan seismic horizon yang diperoleh dari interpreter, anda dapat menggunakannya sebagai guidance didalam melakukan well-seismic tie. Jadi sebelum melakukan proses detail di atas, anda dapat melakukan korelasi well-tops terhadap horizon terlebih dahulu.

Untuk kasus sumur bor miring, prosesnya serupa dengan sumur bor vertical, akan tetapi anda harus membandingkan sintetik seismogram dengan data seismic disepanjang sumur bor. Lebih detail lagi, anda dapat melakukan koreksi ‘anisotropi’ terutama untuk log sonic. Ingat ‘penembakan’ sonic dilakukan tegak lurus dengan sumur bor, jadi untuk sumur bor horizontal, kita mengukur sonic kearah vertical. Sedangkan data seismik diasumsikan mengukur secara horizontal.

Berikut contoh hasil well-seismic tie untuk sumur bor miring (deviated). Trace synthetic ditunjukkan dengan warna pink, perhatikan peak pada sintetik cukup berkorelasi dengan baik dengan peak seismik, demikian juga dengan trough-nya.

9 comments:

Anonymous said...

Apakah ketika melakukan well-tie (katakanlah 5 sumur masing2 pny checkshot) diharuskan bentuk waveletnya semirip mungkin satu sama lain?
Apakah bentuk wavelet bisa bebas yg penting nilai korelasi-nya tinggi dng window yg cukup lebar tentunya (400-500ms), ato harus dibuat bentuknya seperti minimum phase?
Bagaimana cara mengkoreksi data sonic yg akan kita gunakan utk well-tie? Bgmn jika kita menggunakan transformasi dari data resistivity (persamaan Faust)? Apakah sonic yg hasil transformasi lebih bagus (lebih terpercaya) dari sonic asli?
Bgmn tips ato saran ketika mengedit checkshot, hasil td-function nya bagus, sehingga ketika di inputkan utk velocity modeling, hasilnya bagus? Parameter apa dan bagaimana utk meng-QC hasil velocity modelling?
Sekian dulu

Agus Abdullah, PhD said...

Apakah ketika melakukan well-tie (katakanlah 5 sumur masing2 pny checkshot) diharuskan bentuk waveletnya semirip mungkin satu sama lain?

Jika lokasi well nya berdekatan dan zona target nya satu level kedalaman, secara teoritik waveletnya harus mirip. Apalagi jika kita melakukan kontrol fasa saat processing (dikontrol agar zero phase untuk setiap kedalaman).

Apakah bentuk wavelet bisa bebas yg penting nilai korelasi-nya tinggi dng window yg cukup lebar tentunya (400-500ms), ato harus dibuat bentuknya seperti minimum phase?

Tidak, fungsi nilai korelasi akan sangat tergantung pada kecocokan wavelet yang dipilih.

Bagaimana cara mengkoreksi data sonic yg akan kita gunakan utk well-tie?

Mencurigai nilai-nilai spike diantaranya dengan melihat calliper log untuk mewaspadai wash out zone.

Bgmn jika kita menggunakan transformasi dari data resistivity (persamaan Faust)? Apakah sonic yg hasil transformasi lebih bagus (lebih terpercaya) dari sonic asli?

Jika punya, pakailah sonic asli. Kecuali jika anda tidak mempercayai sonic (karena sesuatu hal) anda terpaksa memakai sonic dari Faust.

Bgmn tips ato saran ketika mengedit checkshot, hasil td-function nya bagus, sehingga ketika di inputkan utk velocity modeling, hasilnya bagus?

dari pembaca yang lain ada saran?

Parameter apa dan bagaimana utk meng-QC hasil velocity modelling?

dari pembaca yang lain ada saran?

Sekian dulu

gotenx said...

Ada yg bilang kepada saya bahwa buatlah bentuk wavelet mirip dgn minimum phase (polaritas SEG ato Europe) ketika melakukan well seismic tie, karena bentuk minimum phase adalah bentuk yg paling masuk akal untuk bentuk wavelet real di lapangan. Apakah ini mutlak benar?
Kasus real: saya baca laporan konsultan di suatu oil company, bahwa salah satu hasil well seismic tie dia menggunakan bentuk wavelet dgn parameter phase 124 derajad dan shifting time 27ms (syntool di openworks), bgmn komentar Mas Agus?
Terimakasih

Agus Abdullah, PhD said...

Signature dari wavelet sumber adalah minimum phase, karena energi dominannya terletak diawal waktu. akan tetapi interpreter lebih menyukai untuk interpretasi pada zero phase, sehingga seismic procesor melakukan 'designature' untuk memutar fasa wavelet yang tadinya minimum phase menjadi zero phase. Saran saya, lihatlah history processingnya apakah sudah didesignature atau belum.

Wavelet dengan parameter fasa 124 derajat dan shifting 27ms kurang lebih memiliki bentuk yang mirip dengan minimum phase. Jadi wavelet yang dipakai dilaporan tersebut adalah 'minimum' phase. Dengan demikian kita akan mendapatkan syntetik yang mirip untuk fasa minimum yang sesungguhnya dengan zero phase yang dirotasi 124 derajat dan shifting 27ms. TETAPI kros plot frekuensi terhadap fasa untuk kedua wavelet tersebut berbeda. Untuk rotated wavelet, fasa wavelet dipertahankan nol untuk semua frekuensi. akan tetapi untuk minimum phase, fasanya akan berbeda dari satu frekuensi ke frekuensi lainnya.

Anonymous said...

Bgmn tips ato saran ketika mengedit checkshot, hasil td-function nya bagus, sehingga ketika di inputkan utk velocity modeling, hasilnya bagus?

dari pembaca yang lain ada saran?

menurut saya salah satu parameter untuk meng-qc cks edit adalah drift curve. mungkin pembaca lain ada yg punya rule of thumb berapa nilai drift yg masih bisa ditoleransi?

Agus Abdullah, PhD said...

says 50ms(?)

annesirait said...

mo tanya ..
gimana caranya correlate well yang tidak punya sonic ke seismicnya?
thx
anne

Agus Abdullah, PhD said...

Generate sonic dari log lain. e.g. Faust eq. dari resistivity, xu-white method dari porosity, Vsh,Sw.

Anonymous said...

Mas Agus... blognya sangat bermanfaat.. sukses selalu..
Saya awam sekali dengan geofisika, jadi untuk mengerti sintetik agak susah...
ada beberapa pertanyaan yang mengganjal..
1. Akibatnya apa kalau well dengan seismik tidak begitu bagus korelasinya? apakah interpretasi kita jadi salah atau bagaimana?
2. proses shifting dan squeezing sebenarnya merubah sesuatu secara fisik? seperti mengubah chekshot atau amplitude seismik yang berubah?
3. apakah dengan proses shifting atau squeezing sumur yang kita punya pasti akan menemukan korelasinya dengan seismik?

terimakasih sebelumnya
-salam-